Waktu Belajar

SMPIT Attaufiq Depok menerapkan waktu belajar sistem full day school dari jam 06.45 s/d 16.00 WIB dengan istirahat dua kali, sholat dzuhur dan ashar berjama'ah.

Waktu Belajar

SMPIT Attaufiq Depok menerapkan waktu belajar sistem full day school dari jam 06.45 s/d 16.00 WIB dengan istirahat dua kali, sholat dzuhur dan ashar berjama'ah.

Waktu Belajar

SMPIT Attaufiq Depok menerapkan waktu belajar sistem full day school dari jam 06.45 s/d 16.00 WIB dengan istirahat dua kali, sholat dzuhur dan ashar berjama'ah.

Waktu Belajar

SMPIT Attaufiq Depok menerapkan waktu belajar sistem full day school dari jam 06.45 s/d 16.00 WIB dengan istirahat dua kali, sholat dzuhur dan ashar berjama'ah.

Waktu Belajar

SMPIT Attaufiq Depok menerapkan waktu belajar sistem full day school dari jam 06.45 s/d 16.00 WIB dengan istirahat dua kali, sholat dzuhur dan ashar berjama'ah.

30 April 2015

Hubungan Baik Ahlul Bait dengan Sahabat oleh Ust. Farid Nu'man Hasan, SS

Ahlul bait, sahabat nabi, ustadz farid nu'man hasan 
 Hubungan Baik Ahlul Bait dengan Sahabat oleh Ust. Farid Nu'man Hasan, SS

21 April 2015

Penjelasan Tentang Shalat Hajat dan Tata Caranya

Cara Shalat Hajat
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu 'ala rasulillah wa ba'd:

Shalat Hajat adalah sunah sebagaimana penjelasan mayoritas ahli fiqih, di antaranya Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahih, dari Abu Darda, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barang siapa yang berwudhu lalu dia sempurnakan wudhunya, kemudian dia shalat dua rakaat sampai sempuna, niscaya Allah akan mengabulkan apa yang diinginkannya baik segera atau diakhirkan. (Fiqhus Sunnah, 1/213)

Hadits yang disampaikan dan dishahihkan oleh Syaikh Sayyid Sabiq, didhaifkan oleh Syaikh Syu'aib Al Arnauth. (Ta'liq Musnad Ahmad No. 27497)

Syaikh Hisamuddin 'Afanah pernah ditanya tenang shalat hajat, berikut ini penjelasan Beliau:

Penanya: Saya membaca tentang shalat hajat pada sebagian buku-buku doa, saya harap penjelasan hukumnya dan cara pelaksanaannya?

Jawaban: Banyak ahli fiqih telah sepakat bahwa shalat hajat adalah mustahab (disukai/sunah), itu dilakukan ketika manusia menginginkan kebutuhan di antara hajat-hajat dunia yang dibenarkan syariat. Disunahkan baginya untuk berwudhu lalu shalat dua rakaat untuk Allah, dan berdoa kepada Allah, barang siapa yang melakukan itu karena keimanan terhadap qadar Allah, maka Allah mengabulkan untuknya apa yang diinginkannya. Telah ada hadits dari 'Utsman bin Hunaif Radhiallahu 'Anhu, bahwa datang seorang buta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berkata: Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar penglihatanku terbuka. Nabi menjawab: Ataukah aku mendoakanmu? Laki-laki itu berkata: Waai Rasulullah, saya mengalami kesulitan karena telah lenyap penglihatan saya. Nabi bersabda: Pergilah, lalu berwudhu, dan shalat dua rakaat, lalu bacalah: Ya Allah aku minta kepadamu ... (Fatawa Yas'alunaka, 3/32)

Jadi pelaksanaannya sebagaimana shalat sunah biasa, sebanyak dua rakaat menurut jumhur ulama, sedangkan menurut Hanafiyah empat rakaat, sedangkan Al Ghazali mengatakan 12 rakaat. (Al Mausu'ah, 27/211-212), lalu berdoa sesuai hajat (kebutuhan). Bacaannya pun biasa saja sebagaimana shalat sunah dua rakaat, sesuai yang kita ketahui dan hafal.

Tertera dalam kitab Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, karya Syaikh Wahbah Az Zuhaili, katanya:

Shalat hajat: yaitu empat rakaat setelah 'Isya, ada yang mengatakan dua rakaat. Terdapat dalam hadits marfu' bahwa di rakaat pertama membaca Al Fatihah sekali dan ayat kursi tiga kali, lalu ditiap tiga rakaat sisanya membaca Al Fatihah, Al Ikhlas, dan Al Mu'awidzatain (Al Falaq dan An Naas), masing-masing sekali. Maka, jika jika surat-surat ini dibaca maka dia mendapatkan nilai seumpama pada Lailatul Qadr. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 2/1065-1066), sayangnya dalam kitab ini tidak disebutkan status riwayat tersebut.

Ada pun Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz dan muridnya, Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin, mereka berdua menyatakan dalam Fatawa Nur 'Alad Darb, bahwa tidak ada dan tidak dikenal shalat bernama "Shalat Hajat", yang ada menurut mereka adalah shalat taubat dan shalat istikharah. Demikian.

Tetapi, dalam kenyataan sejarah fiqih Islam, istilah shalat hajat sudah ada sejak belasan abad yang lalu, tertera dalam Sunan At Tirmidzi dan Sunan Ibni Majah dalam judul yang sama, Bab Maa Jaa'a fi Shalatil Haajah (Bab Tentang Shalat Hajat). Oleh karena itu, kenyataan ini menunjukkan hal itu sudah dikenal sejak masa salaf.

Kemudian, pada kitab-kitab para ulama empat mazhab pun terkenal shalat hajat ini. Oleh karenanya disebutkan dalam kitab Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah:

Para ahli fiqih telah sepakat bahwa shalat hajat adalah sunah. (Al Mausu'ah, 27/211)

Selesai. Wallahu A'lam

Penulis : Ustadz Farid Nu'man, S.S. | www.faridnuman.com |

Jangan Pandang Siswa Sekadar Anak Kecil, Merekalah Wajah Masa Depan Indonesia

Kota Bandung
Bandung, Kemendikbud - Para siswa yang duduk di bangku sekolah bukan hanya sekadar pelajar melainkan wajah masa depan Indonesia. Jangan pandang para siswa hanya sebagai seorang anak kecil semata karena sebenarnya merekalah yang mempunyai masa depan untuk Indonesia. Maka dari itu, ketika melakukan sesuatu hal untuk siswa dampaknya akan terasa pada 10 sampai 20 tahun mendatang dan bukan sekarang.

Demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, pada saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Pameran Tunggal Hanafi dengan judul Biografi Visual "Oksigen Jawa" di Bandung, Jumat, (17/4/2015).

Mendikbud mengatakan, Indonesia akan memiliki bonus demografi dalam 10 sampai 20 tahun mendatang maka dari itu perlu diberikan ruang untuk berkembang bagi masyarakat Indonesia khususnya para siswa. Namun masalahnya, kata dia, satuan pendidikan di Indonesia belum tentu dapat memberikan ruang untuk berkembang bagi para siswanya. "Kalau kita bicara manusia di Indonesia itu diberikan ruang untuk berkembang, manusia Indonesia itu dahsyat begitu dikasih kesempatan untuk berkembang," ujarnya.

Mendikbud menekankan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sedang mendorong agar sekolah menjadi tempat yang menyenangkan seperti dicita-citakan bapak pendidikan modern Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Sekolah yang menyenangkan, kata dia, para siswa akan datang ke sekolah dengan senang hati dan pulang dari sekolah dengan berat hati. Dia mengatakan, kenyataan saat ini di Indonesia adalah sebaliknya, para siswa datang ke sekolah dengan berat hati dan pulang dari sekolah dengan senang hati. "Karena itu kita harus mengubah konsep ini menjadi sekolah yang menyenangkan," tuturnya.

Mendikbud menjelaskan, sering kali ketika akan memperbaiki proses pendidikan di Indonesia maka akan bertanya kepada para ahli pendidikan, kepala sekolah, guru, dan pihak-pihak yang berpengalaman lainnya di bidang pendidikan. Tetapi untuk memperbaiki proses pendidikan tersebut, kata dia, tidak pernah bertanya langsung kepada para siswa agar sekolah menjadi tempat yang menyenangkan. "Mereka akan hidup di zamannya," ucapnya. (Agi Bahari)

Bakhil dan Kikir Penyebab Kesulitan Hidup

bakhil, kikir, menumpuk harta, penyebab kesulitan hidup
Siapakah pada saat ini insan di dunia yang tidak  mengalami kesulitan hidup?  Kesulitan hidup , baik itu dari aspek ekonomi maupun sosial bisa menerpa siapa saja seseorang, keluarga ataupun masyarakat. Kesulitan hidup  itu disebabkan antara lain karena melakukan tindakan maksiat. Maksiat yang dimaksud disini adalah bukan saja  yang sering diartikan orang sebagai  perbuatan asusila saja, tapi bentuk ketidak taatan  manusia kepada apa-apa yang diperintahkan Rabbnya.

Sepahit dan sesulit apapun kehidupan dunia maka itu tidak akan kekal,  yang kekal adalah kehidupan akhirat, Jadi , sebaiknya kita ketahui apa saja yang bisa menyebabkan kesulitan hidup kelak di akhirat yang pedih  lagi kekal

Salah satu penyebab kesulitan hidup  adalah; BAKIL DAN KIKIR.

Allah berfirman :

“ harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat..”  (Ali Imran : 180)

Maksudnya, Allah akan menjadikan harta yang ia bakhil menginfakkannya sebagai beban di pundaknya pada hari kiamat.  Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan satu hadits dari Rasulullah saw :

Dari Abu Hurairah r.a. : bahwa Rasulullah Saw bersabda : “ Barang siapa yang diberikan oleh Allah harta kepadanya , kemudian ia tidak mengeluarkan zakatnya, maka ia akan berwujud ular yang sangat besar yang akan menariknya dengan dua tulang rahangnya yang lebar, kemudian ia berkata, “ saya adalah harta simmpanananmu.”  Kemudian Rasulullah membacakan ayat ini , sampai akhir hayat (mutttafaq alaih)

Firman Allah ;

“ Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-nya, mereka kikir dengan karunia itu dan ia berpaling dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran) (at Taubah : 76)

Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalam yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik ..(al Lail : 7-9)

Menafsirkan ayat di atas , Ibnu Abbas berkata, “ Bakhil dengan hartanya dan tidak mau menyembah Allah’SWT , tidak percaya terhadap surga dan nikmatNya, maka akan Kami persiapkan untuknya nasib yang menjadikannya dalam kesusahan yaitu kehidupan yang sulit di dunia dan akhirat. Ia adalah jalan kejahatan.” Para ahli tafsir berkata,” jalan kebaikan disebut sebagai jalan kemudahan, karena akibat yang akan dialaminya adalah sebuah kemudahan yaitu masuk surga  . Dan dinamakan jalan kesusahan, karena akibat yang akan ia rasakan adalah kesusahan yaitu masuk neraka jahanam.

Firman Allah ‘

‘Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu. Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada Jalan Allah. Maka diantara kamu ada orang yang kikir dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap diri nya sendiri. Dan Allahlah yang Maha kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya); dan jika kamu berpaling , niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu (ini). (muhammad ; 37-38)

Maksudnya , barang siapa yang bakhil, tidak mau mengeluarkan infak di jalan Allah, maka sesungguhnya mudharat yang diakibatkan karena ia bakhil akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena ia sendiri yang menghalangi pahala dan balasan dari Allah. Allah tidak membutuhkan  infak yang kita keluarkan. Bahkan kitalah yang butuh terhadap  harta tersebut. Jika berpaling dari taat kepada Allah dan tidak mengikuti perintah-perintahNya maka  Ia akan menggantikan posisi kalian dengan kaum yang lain yang lebih taat kepada Allah daripada kalian.

Firman Allah,

“ Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya , maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (ath Thagabun : 16)

Maksudnya , orang-orang yang dijaga oleh Allah dari sifat bakhil dan jiwa mereka dan dijauhkan dari pengaruhnya (dengan mengikuti hawa nafsu) , maka mereka berbeda dengan golongan lain  yang tidak menyukai untuk infak, mereka itulah orang-orang yang akan Allah selamatkan dari siksaan-Nya.

Dari Jabir Inu Abdillah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda,” Jauhilah perbuatan zalim, karena kezaliman akan membawa kegelapan di hari kiamat. Dan jauhilah dari sifat kikir dan tamak , karena ia telah menghancurkan umat sebelum kalian. Ia telah mendorong mereka menumpahkan darah saudara mereka sendiri dan menghalalkan kehormatan mereka.. (HR Muslim)

Perbedaan sifat bakhil dan dermawan sebagaimana  yang diungkapkan oleh sahabat Abu Hurairah r.a. berkata  bahwa ia mendengar Rasululah saw bersabda,” Perumpamaan orang yang bakhil dan orang yang mengeluarkan infaknya seperti dua orang yang mempunyai dua kantong yang terbuat dari  besi yang panjangnya dari dada mereka hingga di atasnya. Ada pun orang yang suka berinfak, ia tidak mengeluarkan infak kecuali sampai semua yang ada dalam kantong habis, sehingga jari-jari tangannya tertutup ketika ia mengambil hartanya untuk infak atau tidak ada lagi tersisa sesuatu pun dalam kantongnya . Ia akan menjadi penghapus dosa-dosanya hingga tidak ada bekas sedikitpun. Adapun orang yang bakhil , ia tidak mau mengeluarkan infak kecuali semua anggota badannya akan saling lekat, ia berusaha melebarkannya tetapi tidak mampu juga “ (muttafaq ‘alaih)

Makna hadits tersebut,

Bahwa orang yang mengeluarkan infak itu akan terasa   lapang hidupnya dan lebar jiwanya, sehingga ia mampu menarik yang ada dibelakangnya dan membawa kedua kakinya serta semua bekas perjalanan dan langkahnya . Imam Al Khattabi berkata,” Ini adalah perumpamaan yang disampaikan oleh Rasulullah saw tentang dua orang yang suka mengeluarkan infak dan orang yang bakhil seperti dua orang yang ingin memakai baju perang( tameng ) untuk melindungi dirinya dari serangan senjata musuh. Kemudian  mereka memakainya di atas kepala. Tameng biasanya dipakai mulai dari atas kepala hingga menutupi dada, sampai kedua tangannya tertutupi. Demikanlah orang yang mengeluarkan infak seperti  orang yang memakai tameng yang lebar hingga menutupi semua anggota badannya. Dan perumpamaan orang yang bakhil sperti orang yang memangku tangannya hingga sampai kepundaknya. Setiap hendak ia memakainya, ia harus mengumpulkan tangannya ke pundak.  Inilah maksudnya bahwa orang yang dermawan ketika hendak berinfak dadanya lapang , tidak terhalang, jiwanya bersih , pun rezekinya menjadi bertambah banyak. Sedangkan orang bakhil, jika dikatakan tentang infak, ia akan merasa tamak dan rakus, seakan dadanya sempit dan tangannya selalu tergenggam.


Source : eramuslim.com

Keajaiban Islam di Negeri Sakura

Islam, Negeri Sakura, Japan, Jepang
Hari ini tepat empat hari menjelang satu bulan aku menginjakkan kaki di bumi sakura. Kali ini untuk jangka waktu yang lama. Sebuah amanah mesti ditunaikan selama kurang lebih dua tahun delapan bulan. Serasa menghitung hari menghabiskan hari-hari selama hampir satu bulan ini. Begitu terasa kesendirian jauh dari sanak keluarga, terutama suami dan keluarga tercinta. Tapi, cukup menjadi pengiburan tersendiri kala ada kejutan-kejutan kecil dari lingkungan sekelilingku, terutama menyangkut dienku, juga penutup kepala yang aku gunakan. Ternyata, Islam tidak ditolak di negeri matahari terbit ini. Aku merasakan itu.

***

Kami berada sebuah gedung yang relatif baru dan berwarna coklat muda. Setelah bertanya beberapa kali, aku dan dia, seorang perempuan berkebangsaan Jepang dari kantor pemberi beasiswaku, menemukan gedung itu. Ruangan yang kami tuju berada di lantai dua. Sebuah ruangan tempat pendaftaran mahasiswa asing di universitas itu. Di dalam lift seperti tersentak oleh suatu hal, dia bertanya: Febty-san wa oinori wo shimasuka. Nanji desuka(1). San adalah panggilan untuk menghormati seseorang. Aku terdiam sesaat. Rupanya, kebiasaanku dan dua orang teman yang selalu minta ijin menunaikan sholat kala jam makan siang di kantor pemberi beasiswaku diingatnya. Kala itu, waktu sholat dzuhur sudah hampir habis. Aku berniat menjamak takhir shalat dzuhurku bersama dengan shalat ashar. Tapi, cukup menjadi sebuah kejutan tersendiri untukku. Itu pertama kali aku ditanya waktu shalatku di negeri matahari terbit ini, oleh seseorang yang berkebangsaan Jepang pula.

Selesai urusan kami di ruangan itu, aku dan dia menuju ke ruangan senseiku. Asisten senseiku bersama dengan seorang temanku di laboratoriumku diminta oleh senseiku untuk menemaniku berbelanja beberapa barang yang aku butuhkan untuk kelengkapan di kamarku. Dan diapun pulang setelah aku bertemu dengan asisten senseiku, dengan sebuah pesan kepada asisten senseiku untuk mengajakku makan siang terlebih dahulu sebelum kami berbelanja.

Di kantin di universitasku, aku makan siang bersama asisten senseiku. Tepatnya, asisten senseiku hanya menemaniku. Hanya nampanku sendiri yang menunya adalah menu lengkap makan siang, sedang asisten senseiku hanya makan semangkok makanan penutup. Aku tidak tahu namanya. Tinggal sedikit lagi, menu makan siangku habis, aku memberanikan diri untuk minta ijin menunaikan sholat dzuhur dan ashar sebelum kami pergi berbelanja. Jam dinding yang tergantung agak jauh dari kami duduk menunjukkan kalau waktu sholat ashar sudah tiba.

Yoshino-san, kaimono e iku mae ni, watashi wa oinori wo shitte mo ii desuka. Daijoubu desuka(2). Bahasa jepangku masih terbata-bata. Aku berharap dia mengerti maksudku.

Daijoubu desu. Doko desuka(3), tanyanya.

Konpyuta no heya no naka desu. Daijoubu desuka(4), jawabku. Ada sebuah tempat yang agak luang yang bisa aku gunakan untuk sholat di ruangan komputer di sebelah ruangan senseiku.

Daijoubu desu(5), jawabnya. Alhamdulillah, batinku. Dan kamipun menuju ke ruangan komputer itu. Dan aku semakin mengucap syukur di hati, kala kami menuju ke asramaku sepulang berbelanja, waktu Isya sudah menjelang.

***
Waktu itu sudah langit di jepang sudah gelap. Aku masih berada di labku. Sehabis menghadiri progress report meeting untuk mahasiswa doktoral di labku, senseiku memintaku untuk tetap tinggal di lab terlebih dahulu. Senseiku akan mengadakan farewell party untuk mahasiwa undergraduate di labnya yang akan mengikuti summer school selama dua minggu di Taiwan.

Hampir jam tujuh malam, farewell party itu dimulai. Semua orang sudah menempati kursinya masing-masing. Aku hendak mengambil makanan yang menarik perhatianku. Sepertinya cukup lezat. Aku pikir itu mungkin sejenis ikan. Dengan menggunakan sumpit, aku mengambil daging itu. Entahlah, beberapa kali daging itu terlepas dari sumpitku. Mungkin, karena aku belum terbiasa menggunakan sumpit. Tetap kucoba, dan sampai di suatu detik tertentu, hampir serempak teman-teman labku, juga senseiku berteriak tertahan: Febty-san, kore wa butaniku(6). Allahu Akbar, hampir saja makanan yang diharamkan itu memenuhi lambungku. Aku lalu mengerti arti pandangan aneh teman-teman labku, juga senseiku saat aku hendak mengambil daging itu. Segera kuganti sumpitku, dan mengganti makananku dengan roti, keju dan sayur-sayuran yang banyak tersedia di meja farewell party kami. Seribu syuku kupanjatkan saat shalat isya di kamarku, sepulang dari farewell party itu. Terima kasih, Rabbi. Hanya itu yang sempat terucap dari lisanku.

***
Hari itu adalah hari libur di kampusku. Sorenya aku berencana untuk menginap di rumah seorang teman yang bersamaan denganku menginjakkan kaki di Jepang. Sebelum waktu sholat dzuhur, kusempatkan untuk berbelanja keperluan dapur, juga lauk-pauk dan sayur-mayur mentah di sebuah departement store yang kuanggap murah dan dekat dari asramaku. Sebenarnya aku bisa berjalan kaki untuk mencapai tempat itu, tapi hari siang itu aku memilih menggunakan kereta.

Memasuki departement store itu aku menuju ke lantai tiga, aku mencari beberapa barang yang aku butuhkan. Setelah itu, di lantai dua pun, aku juga berkeliling untuk mencari beberapa barang lagi. Aku tidak menemukan garam di lantai dua. Yah sudahlah, pikirku. Nanti, aku akan coba bertanya dengan kasirnya. Mungkin terletak di lantai satu.

Aku lupa garam dalam bahasa jepang. Salt wa doko desuka(7). Hanya kalimat itu yang akhirnya muncul. Aku berharap seorang perempuan berkulit putih di hadapanku mengerti arti pertanyaanku.

Ikkai(8), jawabnya sambil menunjuk ke bawah. Entahlah darimana semuanya berawal. Akhirnya, kamipun mengobrol dalam bahasa Inggris. Dia sambil menghitung jumlah harga belanjaanku. Untunglah, belanjaanku agak banyak serta tidak ada orang lain yang mengantri di sana.

I am a muslim, kalimat itu akhirnya muncul dari bibir mungilnya. Dan akhirnya segera aku mengetahui kalau dia bukanlah warga negara Jepang. Dia sudah tinggal di Jepang selama 3 tahun. Dia juga masih berstatus mahasiswa di universitasku. Dan dia berasal dari sebuah negara kecil di dekat Uzbekistan. Dan, akhirnya, kamipun saling bertukaran alamat email, tepat sesaat jumlah total belanjaanku sudah dihitungnya. Sejumlah uang kuberikan kepadanya. Dan hari itu, kami berpisah dengan sebuah senyuman bahagia.

Aku tahu kalau dia tidak melihat penutup kepalaku, mungkin kalimat I am a muslim tidak akan terucap dari bibirnya. Dan juga, kami tidak akan saling bertukar alamat email dan selanjutnya berjanji untuk saling berkirim email. Tapi, Islamlah yang telah membuat kami saling merasa dekat satu sama lain, walaupun saat itu adalah saat pertama kali kamu berjumpa, pun juga dengan sesuatu hal yang tidak disengaja. Sungguh, sebuah kebahagiaan tersendiri menemukan saudara seiman yang berbeda negara di tanah perantauan ini.

@ dormitory, Inage
ingafety.wordpress.com